Bisnis

Ketegangan AS-Israel vs Iran, Menteri Pertanian Buka Rahasia ‘Benteng’ Pangan RI



JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan bahwa eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran tidak akan berdampak signifikan pada sektor pertanian dan peternakan di dalam negeri.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan bahwa kondisi pangan nasional tetap terkendali meskipun ada ketidakpastian geopolitik global. Ia menegaskan bahwa sektor pertanian dan peternakan masih aman dari gangguan yang mungkin terjadi.

“Pertanian dan peternakan tidak terganggu, aman-aman,” ujarnya saat ditemui di Kantor Kementan, Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Untuk mengantisipasi kenaikan harga bahan baku seperti pupuk, Amran telah melakukan pengecekan langsung ke lapangan. Tujuannya adalah memastikan produksi beras tetap stabil.

“Aku keliling nih, cek, pastikan bahwa produksi beras aman. Kita harus pastikan dengan kondisi geopolitik yang tidak menentu. Ini hampir pasti harga bahan baku bisa naik, pupuk. Makanya kita antisipasi pangan kita cukup, protein kita cukup, Indonesia aman,” tegasnya.

Selain itu, ia juga memastikan bahwa distribusi pupuk tidak mengalami hambatan akibat penutupan di Selat Hormuz. Menurutnya, pasokan pupuk tetap aman dan cukup.

Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Sekitar 20–30% pasokan minyak global melintasi perairan ini, menjadikannya salah satu choke point energi terpenting di dunia. Selain itu, selat ini juga menjadi penghubung utama jalur pelayaran antara Teluk Persia dan pasar global di Asia, Eropa, serta Amerika.

“Nggak terhambat. Aman. Sudah, pupuknya sudah masuk. Pupuk ini pasokannya cukup, bahkan dibanding tahun sebelumnya, itu kalau tidak salah terakhir ya, naik 40% Januari—Februari. Bisa aman lah, pupuk kita,” jelasnya.

Amran juga menyebut bahwa eskalasi AS-Israel terhadap Iran sempat ditanyakan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada malam sebelumnya. Namun, ia menegaskan bahwa stok pangan nasional dalam kondisi lebih dari cukup, terutama beras.

“Sempat ditanya Pak Presiden kemarin malam. Pangan kita lebih dari cukup. Ingat pangan yang menjadi sangat inti pangan kita untuk Indonesia karbohidrat dan beras,” ujarnya.

Menurut Amran, beras tetap menjadi inti pangan masyarakat Indonesia. Ia menilai komoditas lain masih dapat disubstitusi, misalnya daging dapat diganti telur atau ikan, sementara sumber karbohidrat bisa dialihkan ke ubi maupun singkong.

Namun demikian, ia menuturkan konsumsi beras masyarakat Indonesia masih sangat dominan, yakni sekitar 70% dari total asupan pangan, atau minimal 65% jika ditambah dengan sayuran dan komoditas lainnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button