Bisnis

Produksi beras 2026 turun sedikit, ahli soroti pola panen dan persaingan lahan



Prospek Produksi Beras Nasional Tahun 2026: Kenaikan dan Penurunan yang Harus Diperhatikan

Produksi beras nasional pada periode Januari-April 2026 diperkirakan mencapai 13,98 juta ton. Angka ini sedikit turun sebesar 0,18% dibandingkan produksi pada periode yang sama tahun lalu sebesar 14,01 juta ton. Perubahan ini menunjukkan bahwa tren produksi tidak sepenuhnya stabil, meskipun masih dalam kisaran yang relatif baik.

Menurut pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Khudori, penurunan awal tahun ini tidak lepas dari pola panen yang kembali normal setelah mengalami anomali pada tahun lalu. “Tahun lalu terjadi pergeseran waktu puncak panen yang berlangsung dua bulan, yakni Maret dan April. Tahun ini, puncak panen kembali sesuai dengan pola historis, hanya satu bulan,” ujarnya.

Khudori menjelaskan bahwa angka produksi Februari–April masih dalam bentuk perkiraan dan sangat mungkin mengalami koreksi. Meskipun demikian, ia memperkirakan produksi beras pada seluruh tahun 2026 tetap baik, meski berpotensi lebih rendah dibandingkan realisasi 2025 yang mencapai 34,71 juta ton.

Salah satu faktor yang memengaruhi produksi adalah perluasan fokus komoditas di Kementerian Pertanian. Hal ini dinilai memicu kompetisi antara anggaran, sumber daya, dan lahan sawah yang terbatas sekitar 7,38 juta hektare.

Di tengah proyeksi penurunan tipis produksi, pemerintah tetap memastikan ketersediaan beras nasional dalam kondisi aman. Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Amran Sulaiman, menyatakan bahwa neraca pangan hingga April 2026 menunjukkan sebagian besar komoditas strategis berada dalam posisi surplus yang kuat.

Ia menjelaskan bahwa stok beras nasional saat ini sekitar 3,5 juta ton dan diperkirakan terus bertambah seiring masuknya panen raya serta tren kenaikan produksi sekitar 15% hingga Maret. Jika tren tersebut berlanjut hingga akhir bulan, cadangan beras berpotensi menembus 6 juta ton dan bahkan berpotensi surplus hingga sekitar 9 juta ton pada akhir tahun.

“Kalau tren ini bertahan sampai akhir bulan, hampir pasti stok kita tembus 6 juta ton. Ini belum pernah terjadi selama kita merdeka. Kalau konsisten hingga akhir tahun, potensi surplus diperkirakan bisa mencapai sekitar 9 juta ton. Kami pastikan stok beras nasional dalam kondisi surplus. Beras kita sangat kuat menjaga stabilitas pasokan dan harga di masyarakat,” tutur Amran dalam keterangan resmi.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan bahwa angka produksi Januari–April 2026 masih bersifat potensi dan dapat berubah sesuai perkembangan kondisi di lapangan. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa produksi beras Januari–April 2026 diperkirakan sebesar 13,98 juta ton atau turun 0,02 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 14,01 juta ton.

Ateng menjelaskan bahwa secara rinci, produksi Januari diproyeksikan sebesar 1,75 juta ton, Februari 2,95 juta ton, Maret 5,31 juta ton, dan April 3,98 juta ton. Sementara itu, produksi padi dalam bentuk gabah kering giling (GKG) diperkirakan mencapai 24,28 juta ton atau turun 0,18% secara tahunan, dengan luas panen menyusut tipis 0,20% menjadi 4,48 juta hektare.

Namun, Ateng menegaskan bahwa potensi tersebut masih dapat berubah bergantung pada dinamika pertanaman di lapangan. “Perubahan ini tergantung pada kondisi pertanaman sepanjang nanti pada bulan Februari-April 2026. Seperti ketika nanti ada serangan hama ataupun organisme pengganggu tanaman atau OPT, ini akan terjadi perubahan tentunya. Ketika nanti ada banjir, kekeringan, serta juga waktu pelaksanaan panennya oleh petani yang berubah,” pungkasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button