Toko Fisik Sesuaikan Gaya dengan Tren Media Sosial, Gamis dan Bini Orang Jadi Incaran

Tren Gamis ‘Bini Orang’ Menggema di Pasar Tradisional
Di tengah maraknya promo belanja online selama Ramadan, toko-toko konvensional juga berupaya mengikuti tren agar tetap bisa menarik perhatian konsumen, khususnya dalam bidang fesyen. Hal ini terlihat jelas dari pengamatan yang dilakukan oleh para pekerja toko dan pedagang di berbagai pasar tradisional.
Pengaruh Media Sosial pada Model Pakaian
Menurut Vita, seorang karyawan toko baju di Salatiga, tren model pakaian di toko fisik banyak dipengaruhi media sosial, terutama TikTok. Ia menjelaskan bahwa model pakaian yang sedang viral cenderung lebih cepat laku dan diburu oleh pembeli. “Yang sesuai lagu-lagu TikTok itu biasanya ramai. Ada juga yang disebut gamis ‘bini orang’, itu banyak dicari,” ujarnya.
Sementara itu, Doddy, pemilik ABoutique di Ruko Tlogosari Raya 1 No. 18, Semarang, menyebutkan bahwa model gamis ‘bini orang’ sedang sangat diminati. Permintaannya tinggi hingga stok di tokonya sering habis. “Kami sudah restok, tapi biasanya dipasang setelah buka puasa supaya jadi daya tarik,” katanya.
Perkembangan di Pasar Johar Semarang
Kondisi serupa juga terjadi di Pasar Johar Semarang, yang mulai ramai dengan pengunjung yang mencari kebutuhan Lebaran, khususnya produk fesyen. Salah satu model yang paling banyak dicari adalah gamis dengan model yang sedang tren di media sosial, yaitu ‘bini orang’.
Mutmainah (23), seorang pengunjung Pasar Johar, mengaku sengaja datang ke pasar untuk mencari baju Lebaran. Meski bekerja dan hanya memiliki waktu luang di akhir pekan, ia tetap menyempatkan diri berburu gamis incaran. “Kebetulan sudah cari-cari referensi baju Lebaran di media sosial. Ini cari bajunya (gamis) ‘bini orang’,” katanya.
Kebiasaan Berburu Baju Lebaran
Ia biasa mencari baju lebaran berdasarkan tren yang sedang populer. Selain gamis, ia juga berencana mencari sandal untuk melengkapi penampilan Hari Raya. Meski baru tiba di pasar saat diwawancarai, ia optimistis bisa menemukan model yang cocok. “Ikut tren saja. Biasanya (berburu baju Lebaran) juga saat-saat ini,” kata perempuan asal Kebumen itu.
Tren ‘bini orang’ juga diakui para pedagang di pasar Johar sebagai satu model paling laris sejak awal Ramadan. Dewi (48), seorang penjual gamis di Pasar Johar, menyebut permintaan meningkat tajam bahkan sejak pekan pertama puasa. “Yang paling laris ya ‘bini orang’. Dari awal puasa sudah banyak yang cari,” tuturnya.
Ciri Khas dan Harga Gamis ‘Bini Orang’
Dewi menjelaskan bahwa model gamis ‘bini orang’ memiliki ciri khas potongan simpel dengan detail renda di bagian bawah rok. Motif dan coraknya beragam, namun siluetnya cenderung sama, yaitu longgar, anggun, dan memberi kesan dewasa. “Modelnya kayak gini, cuma bawahnya ada renda-rendanya,” jelas Dewi sambil menunjukkan satu koleksinya.
Dari sisi bahan, Dewi menyebutkan bahwa gamis ‘bini orang’ tersedia dalam beberapa tingkatan kualitas, mulai dari standar hingga premium. Ada pula pilihan katun jaguar. Untuk model bermotif, umumnya menggunakan bahan Seruti dengan tambahan detail renda menyerupai brokat di bagian bawah.
Soal harga, Dewi mematok kisaran Rp 225 ribu hingga Rp300 ribu per potong, tergantung jenis bahan. “Bedanya di bahan. Seruti itu ada yang biasa, ada yang premium,” terangnya.
Segmen Pasar dan Penjualan Harian
Dia menambahkan bahwa segmen pasar gamis ‘bini orang’ lebih banyak diminati perempuan usia 30 tahun ke atas. “Lebih ke orang dewasa sampai orang tua,” ujarnya. Meski begitu, Dewi menyampaikan bahwa tidak sedikit keluarga yang membeli seragam atau couple untuk dikenakan saat Hari Raya.
Memasuki hari ke-11 Ramadan, ia menyebut toko sudah mulai ramai. Untuk model ‘bini orang’ dalam sehari bisa terjual lima hingga 10 potong, bergantung keramaian pasar. “Sehari itu bisa sampai lima atau 10 ya, tergantung pasar ramai atau tidaknya,” tukasnya.
Pandangan Pedagang Lain
Pedagang lain, Ratnasari, menyatakan bahwa model ‘bini orang’ menjadi salah satu yang paling banyak ditanyakan pembeli menjelang Lebaran tahun ini. “Model terbaru sekarang ya kayak gini, ‘bini orang’ ini,” ujarnya sambil menunjukkan gamis dengan detail renda di bagian bawah.
Menurut dia, tren ‘bini orang’ sebenarnya sudah mulai muncul bahkan sebelum Ramadan. Ia mengetahui kepopulerannya dari medsos, terutama TikTok, yang ramai menampilkan model itu dari pusat grosir seperti Tanah Abang.
Meski sempat muncul anggapan tren viral bisa membuat pembeli ragu karena takut kembar dengan orang lain, Ratnasari justru melihat sebaliknya. “Malah banyak yang cari,” tukasnya.
Namun, ia mengamati segmen pembelinya cenderung berbeda. Model ini lebih diminati kalangan ibu-ibu daripada remaja. “Biasanya sih ibu-ibu. Kalau remaja kayaknya kurang suka, takut kembar,” ucapnya.
Ratna menyebut, dalam sehari, ia rata-rata bisa menjual dua hingga tiga potong gamis ‘bini orang’, menyesuaikan dengan tingkat keramaian pasar.




