Bisnis

Bapanas: Pekan Ketiga Ramadhan Jadi Titik Balik Harga Cabai Rawit

Titik Balik Harga Cabai Rawit di Pasaran

Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional (Bapanas) Sarwo Edhy menyebut minggu ketiga Ramadhan menjadi titik balik harga cabai rawit di pasaran. Panen raya di sejumlah sentra produksi mulai mengalir dan menekan harga di tingkat eceran. Ia menyampaikan, secara umum harga pangan relatif stabil. Komoditas yang sempat melonjak hanya cabai rawit, namun kini menunjukkan tren penurunan seiring masuknya hasil panen ke pasar.

“Minggu ketiga puasa ini sudah mulai panen raya. Itu informasi dari Dirjen Hortikultura,” kata Sarwo Edhy di Jakarta, Selasa (3/3/2026). Ia menjelaskan, hambatan utama normalisasi harga cabai terjadi saat musim hujan. Petani cenderung menunda panen karena risiko busuk cukup tinggi ketika dipetik dalam kondisi basah.

Distribusi juga menjadi tantangan. Saat cuaca cerah, petani memanen hingga malam hari dan langsung mengirimkan hasilnya ke pasar induk maupun pasar langganan agar kualitas tetap terjaga. “Para petani biasanya enggan memanen ketika musim hujan. Karena kalau musim hujan dipanen, itu biasanya busuk. Nah, itu kendalanya. Sehingga para petani kalau misalnya hari ini tidak hujan, panen sampai malam hari. Kemudian langsung di-drop ke pasar-pasar induk atau pasar langganan mereka. Sehingga harga sekarang itu sudah mulai turun.”

Harga di tingkat pengecer kini berada di kisaran Rp 70 ribu per kilogram. Di Pasar Induk Kramat Jati, harga berada pada kisaran Rp 60 ribu hingga Rp 65 ribu per kilogram. Harga acuan pemerintah untuk cabai rawit berada di angka Rp 57 ribu per kilogram. Angka tersebut menjadi rujukan stabilitas harga di tingkat konsumen. “Harga normalnya Rp 57 ribu. Harga acuan pemerintah. Harga pembelian pemerintah itu Rp 57 ribu. Memang untuk cabai rawit merah ini agak tinggi,” ujarnya.

Sarwo Edhy menambahkan, panen raya berlangsung di sejumlah sentra di Pulau Jawa. Wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat menjadi tumpuan pasokan dalam beberapa pekan ke depan. Komunikasi intensif dilakukan dengan petani champion hortikultura agar suplai ke pasar tradisional tetap terjaga. “Itu champion. Jadi kami melalui Direktur Jenderal Hortikultura selalu komunikasi dan melalui Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, beliau yang selalu berkomunikasi dengan champion-champion itu untuk menyuplai ke pasar-pasar tradisional terutama,” ucapnya.

Bapanas juga menyiapkan fasilitasi distribusi jelang Lebaran jika terjadi lonjakan permintaan. Skema tersebut dilakukan atas permintaan pemerintah daerah agar harga di sentra produksi dan wilayah defisit tetap seimbang. “Ya, dilanjutkan, pasti dilanjutkan. Hanya itu berdasarkan permintaan dari pemda setempat. Jadi itu baru bisa kita keluarkan fasilitasi distribusi sehingga harga di sentra dan harga di wilayah-wilayah yang defisit itu sama. Berarti kita fasilitasi distribusi,” katanya.

Sarwo Edhy memastikan pasokan dari luar Jawa, termasuk dari Aceh ke Jakarta, masih berjalan. Dengan panen raya dan penguatan distribusi, Bapanas berharap harga cabai kembali mendekati harga acuan sebelum Lebaran. Pemerintah akan terus memantau pergerakan harga agar stabilitas pangan selama Ramadhan tetap terjaga.

Lonjakan Harga Cabai Rawit di Beberapa Wilayah

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) di berbagai provinsi terutama dipicu lonjakan harga cabai rawit dan daging ayam ras pada Ramadhan atau minggu keempat Februari 2026. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan sejumlah kabupaten/kota mencatat kenaikan IPH signifikan dengan komoditas pemicu yang relatif seragam, terutama bahan pangan pokok yang banyak dibutuhkan selama bulan Ramadhan.

“Yang paling menyebabkan kenaikan IPH di berbagai provinsi antara lain adalah harga cabai rawit dan daging ayam ras yang terus meningkat,” kata Amalia dalam Rapat Pengendalian Inflasi Daerah yang dipantau secara daring di Jakarta, Selasa. Di Pulau Sumatera, Kabupaten Bangka menjadi daerah dengan perubahan IPH tertinggi. Kenaikan tersebut dipicu naiknya harga daging sapi, cabai rawit, dan daging ayam ras.

Sementara itu, di Pulau Jawa, Kabupaten Trenggalek mencatat kenaikan IPH hingga 7,5 persen yang disebabkan lonjakan harga cabai rawit, daging ayam ras, dan cabai merah. Adapun di wilayah luar Sumatera dan Jawa, kenaikan IPH tertinggi terjadi di Kabupaten Lombok Timur. Komoditas utama yang mendorong kenaikan di wilayah ini adalah cabai rawit, cabai merah, dan daging sapi.

Amalia menjelaskan pola kenaikan harga tersebut mencerminkan karakteristik musiman menjelang Ramadhan, di mana permintaan terhadap bahan pangan seperti cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, telur ayam ras, daging sapi, beras, dan bawang merah cenderung meningkat.

Harga rata-rata nasional cabai rawit hingga minggu keempat Februari 2026 tercatat sebesar Rp 70.000 per kilogram. Sementara rata-rata nasional harga daging ayam ras Rp 41.000 per kilogram. Lebih lanjut, BPS juga mencatat harga beras secara nasional relatif stabil. Namun, terdapat 114 kabupaten/kota yang tetap mencatat kenaikan IPH untuk komoditas beras sehingga perlu menjadi perhatian.

Sementara itu, harga cabai rawit secara nasional telah melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) konsumen, dengan rata-rata mencapai Rp 70.000 per kilogram. Sebanyak 221 kabupaten/kota tercatat mengalami kenaikan IPH cabai rawit. Harga cabai rawit tertinggi tercatat mencapai Rp 200.000 per kilogram, sedangkan terendah sebesar Rp 26.111 per kilogram. Harga tertinggi ditemukan di sejumlah daerah di Papua, yakni Kabupaten Nduga, Mappi, dan Intan Jaya.

Kenaikan IPH cabai rawit tertinggi terjadi di Kabupaten Situbondo, dengan harga saat ini Rp 79.991 per kilogram dan lonjakan IPH mencapai 125,9 persen. Harga tersebut sekitar 40 persen di atas HAP. Selain itu, Kabupaten Pasuruan juga menjadi sorotan dengan kenaikan IPH cabai rawit mencapai 115 persen dan harga saat ini Rp 78.792 per kilogram.

BPS menekankan daerah-daerah dengan harga di atas HAP dan kenaikan IPH tinggi perlu mendapat perhatian lebih lanjut guna menjaga stabilitas harga pangan selama periode Ramadhan.

Bapanas

Pedagang menata cabai dagangannya di Tebet Barat, Jakarta. – (/Prayogi)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button