Sumur Panas Bumi Pertama Indonesia yang Masih Mengeluarkan Uap 100 Tahun Lalu
Sejarah dan Peran Sumur KMJ-3 di Kamojang
Sumur KMJ-3 di Kamojang, yang dibor oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1926, masih mengeluarkan uap panas bumi hingga saat ini. Keberadaannya menjadi bukti bahwa energi panas bumi adalah sumber daya terbarukan yang berkelanjutan. Meskipun sudah berusia hampir seratus tahun, sumur ini tetap aktif dan memberikan kontribusi penting dalam pengembangan energi bersih di Indonesia.
Lapangan panas bumi Kamojang memiliki kapasitas terpasang sebesar 235 megawatt (MW), yang memasok listrik ke sistem Jawa-Madura-Bali (Jamali) dan mendukung target transisi energi nasional. Selain itu, operasional lapangan ini juga memiliki potensi pengurangan emisi hingga 1,22 juta ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e) per tahun. Energi yang dihasilkan mampu memenuhi kebutuhan sekitar 260 ribu rumah tangga.
Lokasi dan Sejarah Sumur KMJ-3
Sumur KMJ-3 terletak di Gunung Kamojang, yang berada di perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dikenal dengan nama Kawah Kereta Api, sumur ini menjadi saksi awal sejarah pemanfaatan energi panas bumi di Indonesia. Pada tahun 1926, pemerintah kolonial Belanda melakukan pengeboran pertama kali di lokasi ini, yang menjadi awal dari eksplorasi energi panas bumi di Indonesia.
Dari pantauan di lokasi, kepulan uap putih terus keluar dari dalam sumur dengan intensitas yang stabil. Uap tersebut membumbung tinggi ke udara, dan area di sekitar sumur dilengkapi pagar pengaman agar masyarakat dapat menyaksikan fenomena alam tersebut dengan aman. Berdasarkan informasi yang tertera pada papan di lokasi, Sumur KMJ-3 memiliki kedalaman sekitar 60 meter.
Pengembangan Energi Bersih oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE)
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE), yang merupakan anak usaha Pertamina, memiliki sumur panas bumi berusia 100 tahun yang masih aktif mengeluarkan uap. PGE berkomitmen untuk memastikan pengembangan panas bumi tidak hanya menghasilkan energi bersih, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, menjaga lingkungan, dan memperkuat ketahanan energi nasional.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron menyampaikan bahwa area operasi Kamojang merupakan bagian penting dari sejarah panjang Pertamina dalam mengembangkan energi bersih yang berkelanjutan. “Seratus tahun lalu, potensi panas bumi Indonesia pertama kali ditemukan di Kamojang. Kita melihat bagaimana sejarah tersebut berkembang tidak hanya menjadi sumber energi bersih yang andal namun sekaligus memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Kapasitas dan Kontribusi Lapangan Panas Bumi Kamojang
Lapangan panas bumi di Kamojang memiliki kapasitas terpasang sebesar 235 MW, berperan dalam memasok listrik ke sistem Jamali dan mendukung target transisi energi nasional. Selain itu, operasional lapangan ini juga memiliki potensi pengurangan emisi hingga 1,22 juta ton CO2e per tahun. Energi yang dihasilkan disebut mampu memenuhi kebutuhan sekitar 260 ribu rumah tangga.
Secara keseluruhan, PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan kapasitas terpasang mencapai 1.932 MW, terdiri atas operasi sendiri sebesar 727 MW dan kerja sama operasi sebesar 1.205 MW. Kamojang sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah pengembangan panas bumi tertua di Indonesia.
Kemojang sebagai Destinasi Wisata Edukasi
Kawasan Kamojang tidak hanya menjadi lokasi eksplorasi dan pemanfaatan geothermal, tetapi juga berkembang menjadi pembangkit listrik ramah lingkungan sekaligus destinasi wisata edukasi mengenai energi panas bumi. Keberadaan sumur KMJ-3 yang masih aktif mengeluarkan uap panas setelah hampir 100 tahun menjadi bukti sumber daya panas bumi memiliki karakteristik sebagai energi terbarukan yang berkelanjutan.




