Tiga Dekade Mengabdi, Gajah Jinak Indra di Taman Nasional Way Kambas Meninggal

Balai Taman Nasional Way Kambas (TNWK) menyampaikan kabar duka atas kematian Gajah Indra, salah satu gajah jinak yang telah menjadi bagian penting dalam upaya konservasi gajah sumatra di Provinsi Lampung. Gajah jantan berusia 42 tahun ini memiliki peran yang sangat signifikan dalam berbagai operasi lapangan dan penanganan konflik satwa liar selama lebih dari tiga dekade.
Indra lahir dari Desa Karang Sari, Kabupaten Lampung Timur, dan bergabung dengan Pusat Latihan Gajah TNWK sejak tahun 1995. Selama masa hidupnya, ia tidak hanya menjadi hewan binaan, tetapi juga menjadi simbol dari sejarah panjang konservasi gajah di kawasan tersebut. Kepala Balai TNWK MHD. Zaidi menyebutkan bahwa dedikasi Indra dalam berbagai kegiatan lapangan memberikan kontribusi nyata bagi konservasi satwa langka ini.
Peran dan Kiprah Indra
Gajah Indra dikenal dengan karakternya yang kuat, tangguh, dan berani. Ia terlibat dalam berbagai operasi krusial, termasuk evakuasi gajah liar, patroli perlindungan kawasan, serta mitigasi konflik antara satwa dan manusia di wilayah Lampung. Keberadaannya sering kali menjadi solusi dalam situasi genting yang melibatkan satwa liar.
Kondisi kesehatan Indra mulai menurun sejak tahun 2017, setelah mengalami kecelakaan lalu lintas saat membantu penanganan konflik satwa di Kawasan Taman Nasional Bukit Barisan. Kecelakaan tersebut menyebabkan trauma fisik serius, termasuk dugaan adanya gangguan pada ruas tulang belakang. Sejak kejadian itu, Indra dipensiunkan dari tugas lapangan dan mendapatkan perawatan intensif oleh tim dokter hewan dan perawat satwa.
Proses Kematian dan Penanganan Darurat
Pada hari Minggu (21/6) sore, Indra sedang menjalani aktivitas rutin mandi di area rawa. Saat hendak diarahkan kembali ke kandang, Indra tiba-tiba ambruk dan tidak mampu berdiri. Upaya darurat segera dilakukan oleh mahout Siswo bersama tim rescue dan bantuan gajah jinak lainnya. Meski sempat didudukkan selama beberapa menit, Indra kembali rebah akibat kondisi tubuhnya yang sangat lemah.
Karena medan rawa yang sulit dan kondisi Indra yang lemah, evakuasi ke fasilitas medis utama tidak dapat dilakukan. Oleh karena itu, penyelamatan darurat dilakukan secara intensif oleh tim dokter hewan di lokasi. Setelah berjuang selama lebih dari 20 jam, Gajah Indra dinyatakan meninggal pada Senin (22/6) pukul 11.06 WIB.
Nekropsi dan Pemakaman
Sesuai standar operasional prosedur medis dan pemenuhan akuntabilitas ilmiah, tindakan nekropsi dilakukan tiga jam setelah kematian Indra. Sejumlah sampel organ telah diambil untuk analisis laboratorium lebih lanjut guna mendapatkan data komprehensif tentang faktor klinis penyebab kematian. Setelah seluruh rangkaian pemeriksaan selesai, Gajah Indra dimakamkan di lokasi khusus di TNWK.
Zaidi menyampaikan rasa hormat setinggi-tingginya atas pengabdian Gajah Indra selama hidupnya. Ia mengingatkan bahwa kehadiran Indra bukan hanya sebagai hewan, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah konservasi yang harus dihargai dan diingat oleh semua pihak yang terlibat dalam perlindungan satwa langka.



