
Di tengah persaingan usaha yang semakin ditentukan oleh kemampuan memanfaatkan teknologi digital, Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggandeng Komunitas Perempuan Digdaya untuk meningkatkan kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perempuan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat yang diselenggarakan pada 24 Juli 2026.
Kegiatan yang diikuti puluhan pelaku UMKM perempuan ini berfokus pada penguatan kemampuan digital branding, optimalisasi konten visual, serta pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam strategi pemasaran. Program tersebut menjadi bagian dari upaya menjawab tantangan transformasi digital yang semakin cepat dan menuntut pelaku usaha untuk terus beradaptasi.
Acara secara resmi dibuka oleh Andi Muhammad Sadat, S.E., M.Si., Ph.D., Koordinator Program Studi Sarjana Terapan Pemasaran Digital UNJ. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Menurutnya, kemampuan memanfaatkan teknologi digital kini bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan dasar bagi pelaku usaha yang ingin bertahan dan berkembang.
“Penguasaan digital branding, kemampuan menciptakan konten yang menarik, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) bukan lagi keterampilan tambahan, melainkan kebutuhan yang harus dimiliki pelaku usaha agar mampu bersaing di era ekonomi digital,” ujarnya.
Peningkatan Kapasitas UMKM Perempuan
Ia juga mengapresiasi peran Komunitas Perempuan Digdaya yang selama ini konsisten mendorong peningkatan kapasitas perempuan melalui berbagai program pemberdayaan dan pengembangan kewirausahaan. Menurutnya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas masyarakat merupakan langkah strategis dalam membangun ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Founder Komunitas Perempuan Digdaya, Yeti Riyadi dan Deni Indra. Keduanya selama ini dikenal aktif mendorong lahirnya perempuan-perempuan mandiri melalui pendidikan kewirausahaan, penguatan jaringan usaha, serta peningkatan literasi digital.
Pada sesi pertama, peserta mendapatkan materi dari Bangun Indra Pratama, Creativepreneur dari Bangunmoto. Ia membawakan materi mengenai dasar-dasar membangun konten promosi dan branding produk yang efektif di era digital.

Dalam paparannya, Bangun menjelaskan bahwa banyak pelaku UMKM memiliki produk berkualitas, namun belum mampu mengomunikasikan nilai produknya secara tepat kepada konsumen. Akibatnya, produk sulit dikenal dan kalah bersaing di tengah derasnya arus informasi digital.
Melalui berbagai contoh dan studi kasus, peserta diajak memahami pentingnya identitas merek, konsistensi pesan pemasaran, serta strategi membangun kepercayaan konsumen melalui konten yang relevan dan menarik. Antusiasme peserta terlihat sejak awal sesi melalui berbagai pertanyaan dan diskusi yang berkembang selama pemaparan berlangsung.
Memasuki sesi kedua, suasana pelatihan semakin hidup ketika Said Maulana, Founder sekaligus Chief Marketing Officer PT Kelas DIGI Kreatif, membawakan materi mengenai pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam pemasaran modern.
Berbeda dengan pelatihan dasar AI pada umumnya, sesi ini berkembang menjadi forum diskusi yang sangat interaktif. Hal tersebut tidak terlepas dari fakta bahwa anggota Komunitas Perempuan Digdaya sebelumnya telah mendapatkan pengenalan mengenai pemanfaatan AI dalam kegiatan bisnis. Bekal pemahaman dasar tersebut membuat peserta datang dengan berbagai pertanyaan yang lebih spesifik dan aplikatif.
Mulai dari penggunaan AI untuk menyusun strategi pemasaran, membuat konten promosi, meningkatkan produktivitas usaha, hingga memanfaatkan teknologi tersebut untuk memahami perilaku konsumen, menjadi topik yang banyak dibahas dalam sesi tersebut.
Puluhan pertanyaan terus mengalir dari peserta. Situasi ini membuat suasana diskusi berlangsung hangat dan dinamis. Bahkan, Said Maulana terlihat harus menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang datang tanpa henti dari para peserta yang begitu antusias menggali potensi AI bagi pengembangan usaha mereka.
Meski demikian, Said melayani seluruh pertanyaan dengan penuh semangat. Ia menekankan bahwa AI seharusnya dipandang sebagai alat bantu yang mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja pelaku usaha, bukan sebagai ancaman yang menggantikan peran manusia.
Tingginya antusiasme peserta menjadi gambaran bahwa pelaku UMKM perempuan kini tidak lagi hanya ingin menjadi pengguna media sosial untuk berjualan. Mereka mulai bergerak menjadi pelaku usaha yang memahami pentingnya strategi branding, teknologi digital, dan inovasi sebagai instrumen untuk meningkatkan daya saing usaha.
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan plakat penghargaan kepada para narasumber dan Founder Komunitas Perempuan Digdaya sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi mereka dalam mendukung peningkatan kapasitas pelaku UMKM perempuan.
Founder Komunitas Perempuan Digdaya, Yeti Riyadi, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas terselenggaranya program pengabdian kepada masyarakat yang diinisiasi oleh Universitas Negeri Jakarta. Menurutnya, kolaborasi antara kampus dan komunitas merupakan bentuk nyata gotong royong dalam membangun kemandirian ekonomi perempuan.
“Kami sangat bersyukur dan senang atas terselenggaranya program ini. Cita-cita kami adalah ikut membangun perempuan yang mandiri, berdaya, dan mampu bersaing dalam dunia usaha. Program seperti yang dilakukan UNJ ini sangat membantu mewujudkan tujuan tersebut,” ujar Yeti.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus diperluas dan diperbanyak sehingga semakin banyak perempuan pelaku usaha yang memperoleh akses terhadap pengetahuan, teknologi, dan jejaring yang dibutuhkan untuk mengembangkan usahanya.
Di tengah tantangan ekonomi yang terus berubah, kegiatan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan tidak cukup hanya melalui akses permodalan. Penguasaan teknologi digital, kemampuan membangun merek yang kuat, serta pemanfaatan AI secara produktif menjadi faktor penting yang akan menentukan keberhasilan UMKM perempuan dalam menghadapi persaingan ekonomi masa depan.
Kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas seperti yang dilakukan UNJ dan Perempuan Digdaya menjadi salah satu contoh bagaimana transformasi digital dapat diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat.




